WE Online, Jakarta – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor Minyak dan Gas, yakni PT Pertamina (Persero) meresmikan 7 Lembaga Penyalur di wilayah timur Indonesia, meliputi 6 titik di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan 1 titik di Maluku Utara. 

Enam titik BBM Satu Harga di NTT berlokasi di Omesuri dan Nubatukan (Kabupaten Lembata), Wolowaru (Kabupaten Ende), Ruteng (Kabupaten Manggarai), Kodi Utara (Kabupaten Sumba Barat Daya) dan Alor Timur (Kabupaten Alor). Sementara di Maluku Utara, titik BBM Satu Harga berlokasi di Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai.

Baca Juga: Pertamina: Realisasi Pelaksanaan BBM Satu Harga Lebih Cepat 3 Bulan

Peresmian Lembaga Penyalur yang berlokasi di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) ini, dilakukan Menteri ESDM, Ignasius Jonan, didampingi Direktur Pemasaran Retail, Mas’ud Khamid, Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa, Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, dan Direktur BBM BPH Migas, Patuan Alfon Simanjuntak, di SPBU Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat (11/10/2019).

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menyatakan, 7 titik BBM Satu Harga yang diresmikan hari ini merupakan bagian dari target 75 titik BBM Satu Harga yang telah tuntas dibangun dan dioperasikan Pertamina di Wilayah Timur Indonesia pada periode 2017–2019. Rinciannya, sebanyak 25 titik di Nusa Tenggara, 17 titik di Maluku dan 33 titik di Papua. 

“Pertamina telah berhasil menuntaskan target BBM Satu Harga lebih cepat, termasuk di wilayah timur Indonesia. Kehadiran lembaga penyalur ini diharapkan makin meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di wilayah 3T,” ujar Fajriyah dalam keterangan tertulis, Jumat (11/10/2019).

Penyaluran BBM di wilayah timur Indonesia, lanjut Fajriyah, dilakukan Pertamina dengan beragam moda transportasi. Di darat menggunakan mobil tangki yang harus melalui medan yang cukup berat, di laut melalui kapal dengan tantangan ombak dan cuaca ekstrem, serta perahu dan sampan untuk pengangkutan BBM melalui jalur sungai.

“Khusus wilayah yang sulit dijangkau, Pertamina menyiapkan pesawat khusus pengangkut BBM jenis ATR dengan kapasitas 4.000 liter. Semua cara kita lakukan agar BBM bisa terdistribusi hingga wilayah ujung Indonesia,” imbuh Fajriyah. 

Fajriyah menambahkan, ketujuh lembaga penyalur tersebut mendistribusikan BBM jenis solar dan premium dengan kapasitas masing-masing sekitar 10-20 kilo liter hingga 10-30 kilo liter. Pasokan BBM akan disuplai dari berbagai TBBM di Wilayah NTT dan Maluku Utara, antara lain yakni TBBM Maumere, TBBM Badas, TBBM  Kalabahi, dan TBBM Tobelo.

Kehadiran BBM Satu Harga di wilayah timur Indonesia telah menurunkan harga BBM yang semula bisa mencapai Rp100.000 per liter kini sama dengan wilayah lain yakni Rp6.450 untuk premium dan Rp5.150 untuk solar. Dengan harga BBM yang terjangkau, harga barang dan biaya transportasi mengalami penurunan sehingga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. 

Dalam tiga tahun terakhir, Pertamina telah berhasil melampaui target pembangunan BBM Satu Harga sebanyak 161 titik dari target 160 titik dengan waktu lebih cepat 3 bulan dari target pada akhir 2019. Pertamina juga berhasil melampaui target pembangunan lembaga penyalur pada tahun 2018, dari target 121 titik, terealisasi 124 titik. 

Menurut Fajriyah, dengan beroperasinya lembaga penyalur, distribusi BBM di wilayah 3T meningkat tajam dari rata-rata 1.253 KL (premium) dan 603 KL (solar) per bulan pada tahun 2017 menjadi rata-rata 9.976 KL (premium) dan 4.037 KL (solar) di tahun 2019 atau meningkat 696% untuk Premium dan 570% untuk Solar.

Penulis: Bambang Ismoyo

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Antara/Priyo Widiyanto

Diambil dari https://www.wartaekonomi.co.id/read251182/7-lembaga-penyalur-diresmikan-pertamina-tuntaskan-75-bbm-satu-harga-di-timur-indonesia

Leave a Reply