SPBU Kompak BBM Satu Harga di Kampung Yamas, Distrik Joerat, Kabupaten Asmat, Papua.(IRSUL PANCA ADITRA)

ASMAT, KOMPAS.com – Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga hadir demi mewujudkan keadilan energi di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan BBM Satu harga dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sejak tahun 2016 lalu, yang dilatarbelakangi oleh mahalnya harga BBM di beberapa daerah terutama di Indonesia bagian timur. Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi fokus pemerintah dalam mengimplementasikan program BBM Satu Harga. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kementerian ESDM telah menetapkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 36 Tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan Secara Nasional. Baca juga: Ribuan Nelayan di Kepulauan Kalbar Kini Nikmati BBM Satu Harga Permen ini mengamanatkan agar badan usaha penyalur BBM mendirikan penyalur di lokasi tertentu yang belum terdapat penyalur jenis BBM tertentu dan jenis BBM khusus penugasan, sehingga masyarakat dapat membeli BBM dengan harga jual eceran yang ditetapkan pemerintah. Di Kabupaten Asmat, Papua, sejak 2018 lalu masyarakat telah menikmati harga BBM murah, setelah hadir SPBU Kompak penyalur BBM Satu Harga. Hingga 2020, terdapat 14 SPBU Kompak yang tersebar di 14 kampung di sembilan distrik, yakni Distrik Agats, Sawa Erma, Joerat, Atsj, Siret, Suator, Fayit, Awyu dan Distrik Safan. Titik suplai BBM ini berasal dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Kabupaten Merauke dengan menempuh perjalanan multimoda darat, laut dan sungai. Dari terminal, BBM diangkut menggunakan mobil tangki, dan kemudian menggunakan kapal yang ditempuh selama beberapa hari perjalanan sebelum tiba di SPBU Kompak yang terletak di pinggir sungai ini. Terakhir, tiga SPBU Kompak di Kampung Mumugu Distrik Sawa Erma, Kampung Sagare Distrik Auwyu, dan Kampung Yamas Distrik Joerat diresmikan Bupati Asmat Elisa Kambu, pada Selasa (22/9/2020) lalu. Elisa menyampaikan apresiasi kepada Pertamina dan berbagai pihak yang sudah turut andil mewujudkan SPBU Kompak. Termasuk masyarakat yang sudah bersedia memberikan tanahnya untuk dijadikan pangkalan BBM Satu Harga. “Saya harap kita semua harus bisa menjaga tempat ini supaya dirasakan sampai anak cucu kita,” kata Elisa. Kabupaten Asmat memiliki 23 distrik dan 224 kampung yang dikelilingi aliran sungai. Mobilitas masyarakat mayoritas ditunjang dengan perahu atau speedboat yang sudah tentu membutuhkan bahan bakar. Dulunya, warga membeli BBM seharga Rp 20.000-Rp 50.000 per liter di pedagang eceran. Mahalnya BBM membuat warga sulit untuk beraktivitas seperti mencari ikan. Khusus di Kampung Mumugu dan Batas Batu Distrik Sawa Erma yang berbatasan dengan Kabupaten Nduga, tentunya menjadi kabar baik bagi warga. Begitun warga Kenyam, Kabupaten Nduga. Baca juga: Membangun Ekonomi Bumi Papua lewat BBM Satu Harga Kehadiran SPBU ini sangat membantu warga mendapatkan harga BBM yang murah, dan lebih mudah dijangkau, dengan harga Rp 6.450 untuk jenis premium, dan Rp 5.150 untuk jenis solar. Pastor Hendrikus Rada, Pr menceritakan, warga Kampung Mumugu dan Batas Batu Kabupaten Asmat, serta warga Kenyam Kabupaten Nduga sebelumnya ingin mendapatkan BBM Satu Harga harus ke Kampung Sawa, Distrik Sawa Erma. Itu pun kalau BBM masih tersedia, jika tidak warga tentunya harus ke Distrik Agats yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Asmat. Untuk waktu tempuh ke Kampung Sawa, Distrik Sawa Erma dari Batas Batu sekitar 2,5 jam dengan menggunakan perahu fiber. Namun, ketika warga kembali ke Batas Batu bisa menempuh waktu 6-7 jam, karena membawa beban BBM. Sedangkan kalau dari Distrik Agats bisa hingga 12 jam. “Semua turun ke Sawa Erma, dan kalau di Sawa Erma kosong (BBM-res) atau habis maka semua turun ke Agats,” kata Hendrikus. Kini, warga Batas Batu dan Kenyam tidak perlu lagi jauh-jauh mendapatkan BBM murah, karena sudah ada SPBU Kompak di Kampung Mumugu dengan alokasi premium 35 KL dan biosolar 10 KL. Dari Batas Batu ke Kampung Mumugu hanya menempuh waktu kurang lebih 45 menit, dan kembali sekitar 2 jam dengan membawa beban BBM. Pastor Hendrikus bersyukur dengan adanya SPBU Kompak di Kampung Mumugu, karena dapat menekan harga BBM dengan yang dijual pedagang eceran. Sebab, sebelumnya, untuk di Kampung Mumugu sendiri warga membeli premium atau bensin di pedagang eceran harganya Rp 20.000 per liter. Baca juga: Bertambah Penyalur BBM Satu Harga di Papua, Warga: Terima Kasih Jokowi   Sedangkan di Batas Batu Rp 25.000 per liter, dan di Kenyam, Kabupaten Nduga bisa mencapai Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per liter. “Adanya SPBU Kompak, dengan demikian dampaknya bahwa harga Batas Batu yang di dan Kenyam juga akan terkoreksi, dalam arti bisa turun tidak seperti yang sekarang,” ujar Pastor Hendrikus. Korenilis, yang kesehariannya membawa perahu fiber mengatakan, sebelum kehadiran BBM Satu Harga, dia harus mengeluarkan Rp 100.000 untuk 5 liter premium. Premium itu dibeli dari pedagang eceran yang berada di pinggiran Sungai Aswet, Distrik Agats. 5 liter premium itu hanya dia gunakan untuk perjalanan dari Kota Agats ke Kampung Yepen, Distrik Agats pulang pergi dengan perahu fiber 15 PK. “Sekali jalan ke Kampung Yepen dan sini (Agats) sekitar 35 menit. Itu pakai perahu dengan mesin ini (15 PK). Tapi kalau pakai speed cepat tapi bensin boros juga,” kata Kornelis, ditemui di Agats, Jumat (25/9/2020). Baca juga: Warga di Wilayah Terluar Kepulauan Maluku Kini Nikmati BBM Satu Harga Sejak hadirnya SPBU Kompak BBM Satu Harga di Distrik Agats, Kornelis mengaku senang. Karena dia cukup mengeluarkan Rp 32.250 untuk membeli premium 5 liter. Diapun kini dapat membawa hasil pertanian seperti ubi, labu, cabai dan sayur mayur lainnya untuk dijual di Agats dengan menggunakan perahu fibernya, tanpa harus mengeluarkan uang Rp 100.000 setiap harinya. “Jadi saya sekarang kami senang sudah ada bensin yang dijual harganya murah sama seperti di Jawa sana,” ujar Kornelis.

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2020/09/25/14111901/kami-senang-sudah-ada-bensin-yang-dijual-murah-sama-seperti-di-jawa?page=all#page2.
Penulis : Kontributor Kompas TV Timika, Irsul Panca Aditra
Editor : Robertus Belarminus

Leave a Reply