Kapal yang tenggelam di perairan Liukang Kalmas. Perairan ini selalu mencekam setiap cuaca buruk terjadi (Sumber : Tribun Timur)

Sebagian dari masyarakat, mungkin ada yang belum paham tentang bagaimana proses pelaksanaan program BBM satu harga. Karena minimnya informasi, kemungkinan ada yang menganggap eksekusi program BBM Satu Harga hanya sebatas asal menuntaskan saja. Dan, bisa jadi pula, ada yang berpikir pekerjaan ini cuma sekadar menggugurkan kewajiban belaka.

Jika ada yang berpikir demikian, simpanlah prasangka itu. Karena pada kenyataannya, pelaksanaan program BBM satu harga di lapangan sangat berat namun dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Tidak sedikit dijumpai hambatan dan rintangan yang terpaksa harus dilewati demi menuntaskan apa yang diamanahkan negara, demi kemaslahatan orang banyak.

Sudah tidak terhitung berbagai tantangan yang harus dihadapi insan Pertamina dalam menunaikan kewajiban satu ini. Akan tetapi, meski tidak mudah, dengan keikhlasan dalam menunaikan tugas, segala macam halangan itu mampu diatasi dan dilalui dengan baik.

Salah satu contoh yang kejadian dialami insan Pertamina di Marketing Operation Region (MOR) VII Sulawesi. Mereka terombang-ambing di lautan selama tiga hari dua malam saat melakukan pengecekan sarana dan fasilitas K3 di lembaga penyalur BBM Satu harga di pulau Kalu Kalukuang, Kecamatan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau tersebut merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia.

Usai memastikan infrastruktur lembaga penyalur terpenuhi dengan baik, tiga pekerja Pertamina yang telah melaksanakannya tugasnya, bertolak kembali ke Makassar. Pelayaran menggunakan kapal kayu menuju Makassar ditempuh kurang lebih 20 jam perjalanan. Itu, jika kondisi cuaca lagi bersahabat. Jika ombak mengganas, waktunya lebih lama lagi.

Petaka pun terjadi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh jam lamanya, mesin kapal yang ditumpangi tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap hitam. Mesin segera dimatikan dan dilakukan pemeriksaan. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata salah satu bagian mesin pecah.

Malang tak dapat ditolak. Posisi kapal kandas, berada jauh dari titik koordinat pulau yang ada di sekitaran Kabupaten Pangkep. Jangankan untuk meminta bala bantuan, jaringan seluler pun tak ada sama sekali.

Satu-satunya komunikasi yang dapat dilakukan hanya menggunakan Radio Marine Transceiver, yang saling terkoneksi antar kapal satu dengan kapal lainnya.

Rencana pulang pun ambyar . Situasi berubah menegangkan. Bayangkan jika kita berada dalam situasi seperti itu. Perasaan menjadi campur aduk menjadi satu, cemas, khawatir dan takut. 

Ditambah situasi kian mencekam, khawatir cuaca berubah menjadi tidak bersahabat. Penampakan lautan memang tampak tenang, namun teramat sepi. Tak satupun perahu dan kapal nelayan yang melintas.

Kapal lain yang menerima gelombang radio guna menyampaikan pesan darurat berada cukup jauh. Yang paling terdekat hanya kapal yang melintas di sekitar Nusa Tenggara Barat (NTB). Tentu ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukan evakuasi dalam waktu singkat.

Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah mengirimkan nomor telepon kerabat yang berada di pulau. Tujuannya adalah, selain untuk memberikan kabar dan kondisi, kerabat yang berada di pulau diharapkan dapat segera melakukan pertolongan.

Setelah mendapat kabar, bala bantuan lalu diberangkatkan dari pulau Kalukuang Liukang Kalmas. Namun, kemalangan rupanya tidak segera berakhir. Lantara mesin mati, kapal kemudian terdampar dibawa gelombang cukup jauh. Hal ini menyulitkan kapal bantuan mencari posisi titik koordinat kapal.

Pencarian membuahkan hasil, kapal pun ditemukan setelah dua hari terdampar. Karena teknisi dan peralatan yang minim, mesin kapal yang rusak diperbaiki seadanya. Yang penting kapal bisa melanjutkan perjalanan menuju Makassar.

Kendati mesin dapat berfungsi kembali, namun kinerja tidak maksimal. Mesin tidak boleh dipaksa untuk bekerja ekstra seperti sebelumnya karena bisa mengakibatkan mesin kembali jebol. Beruntung kapal kembali bisa melanjutkan pelayaran hingga Makassar meski dengan kecepatan rendah.

Yang paling disyukuri adalah cuaca buruk yang sempat dikhawatirkan tidak terjadi. Padahal, laut Sulawesi termasuk wilayah yang menjadi momok, karena gelombang laut yang cukup mengerikan. Cuaca biasa bisa saja langsung berubah. Ombak setinggi 3-4 meter bisa langsung menerjang kapal yang melintas. Tidak sedikit kapal kayu oleng dan terbalik karena digulung ombak.

Ini menjadi secuil kisah, tentang insan Pertamina yang bekerja dengan segala rintangan yang tidak mudah.

Peresmian SPBU di pulau Kalukuang Kecamatan Liukang Kalmas (Sumber : Parepos)

Peresmian SPBU di pulau Kalukuang Kecamatan Liukang Kalmas (Sumber : Parepos)Perjuangan Berbuah Manis

Bagi Pertamina, salah satu yang paling membahagiakan adalah merampungkan lembaga penyalur BBM satu harga sesuai dengan yang ditargetkan. Dengan selesainya pembangunan lembaga penyalur baru, lelah, peluh dan berbagai kesulitan seakan terbayar dengan semakin bertambahnya SPBU Kompak bagi masyarakat yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

Walau menempuh perjalanan jauh dan kapal yang ditumpangi terdampar selama berhari-hari, namun perjuangan itu langsung terobati dengan beroperasinya dua lembaga penyalur baru di Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan (Pangkep). Kedua lokasi lembaga penyalur baru tersebut terletak di Pulau Kalu Kalukuang, Kecamatan Liukang Kalmas (SPBU 76.906.03) dan di Pulau Kapoposang, Kecamatan Liukang Tupabbiring (SPBU U6.906.04).

Dengan hadirnya dua lembaga penyalur tersebut, semakin memudahkan masyarakat setempat untuk memperoleh BBM murah. Sebelumnya, masyarakat pulau harus mengambil BBM terdekat dengan jarak 225 km. Itupun, ditempuh dengan pengangkutan laut dengan lama perjalanan mencapai 24 jam jika kondisi cuaca baik.

Dengan jarak yang jauh dan sulitnya akses, BBM yang tiba di pulau terkerek tinggi. Masyarakat harus merogoh kocek antara Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per liter untuk menebus BBM jenis premium atau solar.

Kini, warga pulau yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan pun bisa tersenyum. Dengan harga Rp 5.150 mereka sudah bisa memperoleh solar dengan kualitas baik. Demikian pula untuk kebutuhan transportasi, dimana premium dibandrol dengan harga Rp 6.450. Harga yang sama dijumpai di kota besar.

Dilansir dari parepos.com, pemerintah Kabupaten Pangkep mengaku, jika hadirnya lembaga penyalur di pulau Kalukuang merupakan mimpi yang akhirnya terkabul. Bupati Pangkep dua periode, Syamsuddin A Hamid mengatakan, ini sudah lama didambakan warga yang sebahagian besar berprofesi sebagai nelayan. Puluhan tahun persoalan BBM menjadi hal yang rumit di wilayah pulau terluar. Karena selain stoknya terbatas, harganya juga yang melambung tinggi. Padahal setiap harinya mereka menjadikan BBM sebagai kebutuhan pokok untuk mencari nafkah di laut.

***

Dibalik tercapainya program BBM Satu Harga, ada orang-orang yang bekerja keras di belakang layar. Menghabiskan waktu dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi demi dalam menciptakan energi berkeadilan.

Selalu ada orang-orang yang bertaruh dengan segala hambatan dan keterbatasan. Bekerja dalam diam dan rela meninggalkan keluarga tercinta demi sebuah tanggung jawab yang diamanahkan negara.

Mereka adalah pahlawan energi yang bekerja dengan segala keikhlasan. Mereka terus bekerja dan tidak berhenti berpacu menggenjot infrastruktur baru yang tujuannya agar seluruh masyarakat indonesia dapat merasakan energi yang berkeadilan. (*)

Sumber : https://www.kompasiana.com/jimmy60605/5fa9f5f99b78302c4d64dc62/pahlawan-energi-berkeadilan-siapa-mereka?page=all
Penulis : Jimmy Wijaya

Leave a Reply